Rudhie Chaniago's Blog
Life Is A Gift .. And this is the story about how I walk it through

Jun
13

segala kenangan ini
hanyalah menyisakan keperihan

sebab menjadikanmu kekasih hati
adalah sebuah duka yang harus kutelan

sebab aku tak pernah bisa
untuk memilikimu

pun begitu
aku tetap menyayangimu selamanya

sekalipun kau telah memiliki
kekasih yang lain

atau pun kau akan pergi
dan menyisakan jejak kesunyian

kadang kurenungkan tentang kita
hingga tanya mencubit genit hatiku
yang murung

adakah kita lebih banyak menangis dari tertawa ,

mungkin tangislah yang mengisi segala
ruang dan waktuku

namun ,
aku akan tetap mencintaimu tanpa sebuah kata sesal

 

May
11

kemarin, telah kupinang sepi dengan segenggam getir

meski tanpa ikrar ,

engkau tetap kudekap dengan setia

meskipun detik kukunyah dalam resah

kadang , kuhampar secarik pilu ini

lalu kulukis dengan tinta dari airmata hati

agar kau tau apa yang kurasa

hingga mungkin aku terlihat kejam

sebab membingkaimu dengan lukaku

aku hanya …

namun sudahlah

biar kini kunikahi sunyi

agar segala rasa kurasa dalam diam

Mar
18

Mar
08

Kau bilang kau akan selalu ada untukku

Mana buktinya?

Kau hanya menemaniku dengan kata kata

Yang sampai sekarang

Hampir tidak terbukti kebenarannya.

 

Kau bilang kau mengerti aku

Apa benar begitu?

Kau selalu melakukan sesuatu

Yang menurutmu benar,

Tanpa peduli perasaanku.

 

Kau bilang kau peduli padaku

Apa pedulimu padaku?

Jika kau peduli padaku,

Mengapa kau selalu tinggalkan aku sendiri

Di dunia yang kejam dan dingin ini?

 

 

Kau bilang kau ingin yang terbaik untukku

Yang terbaik untukku itu apa?

Kau saja tidak tahu apa yang kuinginkan.

Bagaimana mungkin kau tahu apa yang terbaik untukku?

Yang terbaik untukmu, mungkin saja.

 

Kau bilang kau merana oleh tingkah laku ku

Karena aku bersikap seolah tidak peduli.

Apa kamu tidak melihat

Apa yang telah kamu perbuat padaku?

Dan betapa sakit hatiku karena perbuatanmu?

 

Kau bilang aku butuh istirahat dan sebagainya

Karena dengan itu kau bisa mengusirku menjauh darimu.

Tidakkah kau melihat perasaanku?

Bagaimana perasaanmu bila kau diusir seseorang?

Tidak sakitkah hatimu jika diperlakukan seperti itu?

 

Kau bilang kau tidak ingin aku repot,

Dan kau selalu menolakku dengan alasan tersebut.

Kau harus tahu bahwa,

Seseorang yang menawarkan sesuatu itu

Tidak merasa direpotkan sama sekali!

 

Sehina itukah diriku?

Untuk lebih dekat denganmu saja,

Selalu kau tolak dan usir diriku.

Kenapa tidak kau tolak saja aku

Ketika aku menyatakan cintaku padamu?

Sehingga aku tidak merasa sedemikian sakit

Karena sikap dan perbuatanmu padaku sekarang ini.

Mar
03

Kesibukan dan berbagai masalah yang menimpanya akhir-akhir ini memaksa Hae-won (Ji Sung-won), wanita single yang juga seorang pegawai bank ini untuk pergi berlibur meninggalkan segala keramaian kota Seoul, tujuannya adalah pulau Moodo, pulau  terpencil, tempat tinggal almarhum kakeknya yang pernah dikunjunginya sewaktu ia kecil dulu. Di pulau ini juga Hae-won memiliki seorang sahabat lama, seorang gadis setempat bernama Bok-nam (Yeong-hie Seo) yang kini sudah bersuami dan memiliki seorang putri.
Alih-alih mendapatkan ketenangan seperti yang diinginkannya, Hae-won malah harus menjadi saksi kisah kehidupan Bok-nam yang kerap kali mendapatkan siksaan fisik, mental hingga seksual oleh suami dan saudara iparnya. Bahkan penduduk pulau tersebut yang kebanyakan di huni oleh para wanita lanjut usia menganggap Bok-nam tidak lebih dari seorang budak yang pantas diperlakukan semena-mena. Muak dengan segala perlakuan yang tidak manusiawi tersebut, Bok-nam meminta pertolongan Hae-won untuk membawanya dan putrinya untuk keluar dari pulau tersebut.
Anggap saja anda tidak pernah melihat trailler atau mengetahui info tentang Bedevilled sama sekali termasuk juga melihat posternya, bisa dipastikan dengan sedikit mengintip sinopis diatas anda mungkin mengira bahwa film garapan sutradara Jang Cheol-so ini hanya sebuah melodrama tragis Korea Selatan biasa yang megisahkan kisah hidup seorang wanita muda yang kerap kali mengalami siksaan dari suaminya sendiri melalui sudut pandang sahabatnya, Ya, mungkin kurang lebih seperti itulah yang akan ada dapati di 1 jam pertama. Drama, drama dan drama lagi, sedikit datar dan terkesan teralu panjang, sampai akhirnya alur lambat  yang disertai banyak momen-momen memilukan  tersebut kemudian ‘meledak’ di paruh akhirnya, seiring dengan transformasi karkater Bok-nam yang dibawakan dengan sangat luar biasa oleh artis Yeong-hie Seo.

Dalam sekejap, wajah suram Bedevilled langsung berubah drastis, dari sebuah melodrama menjadi sebuah vegeance-blood splatter-gore fest thriller. Walaupun kadar kesadisannya terbilang singkat dan tidak sampai terlalu parah, namun sudah lebih dari cukup bagi seorang Cheol-so untuk menyampaikan pesannya. Tidak ada  karakter yang benar dan salah disini, ini adalah contoh sebuah  kasus ambiguitas moral, sebuah dilema, seperti kebanyakan dialami film-film bertema balas dendam lainnya yang mengajak penontonnya untuk dapat memaklumi segala perbuatan yang dilakukan oleh karakter utama kita meskipun kita tahu itu salah.
Kudos jelas pantas disematkan kepada kedua pemain utamanya, khususnya bagi Yeong-hie Seo yang bermain luar biasa disini. Perannya sebagai wanita yang tertindas sukses dibawakannya dengan apik, sampai-sampai membuat pesona dan kecantikan Ji Sung-won seakan-akan tenggelam dibawah banyang-bayangnya. Tidak salah berkat akting fenomenalnya disini, Yeong-hie Seo kemudian banyak mendapatkan penghargaan sebagai artis terbaik di ajang-ajang festival film bergengsi seperti, Puchon International Fantastic Film Festival dan Fantastic Fest.
Jika anda sudah terlalu banyak menonton thriller-thriller bertemakan balas dendam Korea Selatan , sepertinya tidak akan sulit untuk menyukai Bedevilled. Meskipun tidak menawarkan sebuah kisah atau twist istimewa seperti kebanyakan koleganya, setidaknya Bedevilled sudah mengajak kita untuk menyaksikan sebuah studi karkater hebat.
Feb
28

hatiku kini tlah menjadi batu karena dirimu
hati yang meredup karena tingkahmu
hati yang tersakiti karena ucapmu
hati yang ternodai oleh keputusasaan cintaku yang tlah lama kau hindari

hatiku kini tak berhati
ia hanya segumpal daging yang tak lagi bermakna

saat ku berharap padamu,
tlah kugadaikan jiwa tak berdosa kepada bualan cinta semu
dan ternyata hingga kini terjebak slamanya
terpenjara pada asa yang tak pernah bersambut

 

Feb
19

Feb
18

Feb
07

Ingin kuteriakkan hingga telinga mu peka

pun kata yang selama ini tertahan

lama-lama membuatku luka

bahkan mulai menggerogoti ku dari dalam

 

 

berjuta tanya mengapa dan kenapa sesak dalam fikirku

tak terucap, tak terkata

karena kau selalu menolak untuk menjawab

bahkan sekedar  mendengar tanya ku pun kau tak mau

 

 

mungkin ada yang salah padaku?

mencoba mengingat, mengoreksi diri

namun salah kah jika tak kutemukan??

sesuatu itu datangnya bukan dari ku, tapi dari mu

yang entah apa

sungguh, aku tak mampu meski sekedar menerka

 

 

aku hanya ingin semua kembali normal dalam versiku

normal dalam versi kita

saat tawa, canda dan airmata tiada habisnya tertuang, bercerita

melakukan semua kesenangan kita meski kadang menyiksa

 

 

ungkapkan, bicarakan

jadikan aku pelampiasan, seperti biasanya

jangan kau bergeming dalam diam

karena ini jauh membingungkan dan membuatku tak tahu harus bagaimana

 

 

bicaralah, meski hanya sejenak

ungkapkanlah, walau dalam nada marah

ucapkanlah, meski membuatku menangis

keluarkanlah, meski itu akan menyakitiku

beritahu aku, meski pada akhirnya hanya akan menambah luka ku

 

 

karena apa pun yang kau lakukan padaku

tak kan mampu merubah semua nya

 

 

mentari itu masih akan bersinar di langit yang sama

dari langit yang sama

 

untukmu…

untukmu….

Jan
26

Aku mencoba memutar arah jarum jam secara berlawanan..

Kamu mencoba memecahkan waktu yang sudah terurai..

Aku, manusia pertama yang selalu bahagia saat bersamamu,,

Dan kamu, manusia pertama yang selalu temaniku.

Aku, adalah kepercayaan yang sirna di masa lampau.

Dan kamu, adalah gemerlap bintang yang telah pudar terombak waktu.

Aku, adalah serpihan bom waktu yang slalu mengancam kebahagiaanmu.

Dan kamu, adalah pemilik setengah dari harapan hidupku, yang membuatku slalu membunuh asa ku.

 

Aku, kamu?

Yah, slalu bertentangan bukan?

Seperti cerita sang dewa yang mencintai manusia.

Aku, kamu?

Slalu terpisahkan, dengan apapun.

 

Di saat ku membuka mata, di saat itu juga kamu pejamkan mata.

Di saat ku mulai memejamkan mata, kamu kembali membuatku terpenat akan kalimatmu yang slalu mendengung di hati.

Kita bagai dua sisi mata uang bukan?

Yang tak pernah bisa bertemu antara sisi yang satu dengan sisi yang lain.

Karena kamu, adalah jiwa yang terlepas dari genggaman sang mentari.

Dan akulah mentari,

yang slalu mengalah ketika malam membuatmu terlelap nyaman.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.